Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan


Seorang tukang bangunan yang sudah
tua berniat untuk pensiun dari
profesi yang sudah ia geluti selama
puluhan tahun.
Ia ingin menikmati masa tua bersama
istri dan anak cucunya. Ia tahu ia
akan kehilangan penghasilan rutinnya
namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh
istirahat. Ia pun menyampaikan
rencana tersebut kepada mandornya.
Sang Mandor merasa sedih, sebab ia
akan kehilangan salah satu tukang
kayu terbaiknya, ahli bangunan yang
handal yang ia miliki dalam timnya.
Namun ia juga tidak bisa memaksa.
Sebagai permintaan terakhir sebelum
tukang kayu tua ini berhenti, sang
mandor memintanya untuk sekali lagi
membangun sebuah rumah untuk terakhir
kalinya.
Dengan berat hati si tukang kayu
menyanggupi namun ia berkata karena
ia sudah berniat untuk pensiun maka
ia akan mengerjakannya tidak dengan
segenap hati.
Sang mandor hanya tersenyum dan
berkata, "Kerjakanlah dengan yang
terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas
membangun dengan semua bahan terbaik
yang ada."
Tukang kayu lalu memulai pekerjaan
terakhirnya. Ia begitu malas-malasan.
Ia asal-asalan membuat rangka
bangunan, ia malas mencari, maka ia
gunakan bahan-bahan berkualitas
rendah. Sayang sekali, ia memilih
cara yang buruk untuk mengakhiri
karirnya.
Saat rumah itu selesai. Sang mandor
datang untuk memeriksa. Saat sang
mandor memegang daun pintu depan, ia
berbalik dan berkata, "Ini adalah
rumahmu, hadiah dariku untukmu!"
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia
sangat menyesal. Kalau saja sejak
awal ia tahu bahwa ia sedang
membangun rumahnya, ia akan
mengerjakannya dengan
sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya,
ia harus tinggal di rumah yang ia
bangun dengan asal-asalan.
Inilah refleksi hidup kita!

Pikirkanlah kisah si tukang kayu ini.
Anggaplah rumah itu sama dengan
kehidupan Anda. Setiap kali Anda
memalu paku, memasang rangka,
memasang keramik, lakukanlah dengan
segenap hati dan bijaksana.
Sebab kehidupanmu saat ini adalah
akibat dari pilihanmu di masa lalu.
Masa depanmu adalalah hasil dari
keputusanmu saat ini.

Kisah Tukang Kayu

Posted by : Devva jay
Sabtu, 28 Maret 2015
0 Comments
Langit Senja yang Berpelangi


Pagi ini aku bangun sebelum ayam berkokok. Aku langsung bergegas menimba air di sumur, mandi, dan ganti pakaian. Setelah itu sarapan bersama kedua orangtuaku, walaupun masih sekitar jam lima pagi. Dan saatnya berangkat ke sekolah. Sementara Abi pergi ke ladang untuk bertani. Abi tidak memiliki ladang. Abi hanya menggarap ladang milik orang lain. Biasanya Abi diberi upah sebesar Rp 5.000 sampai dengan Rp 10.000 setiap harinya. Sementara Umi, berdagang buah-buahan di pasar. Buah yang biasa aku petik di hutan setiap pulang sekolah. Pendapatan Umi setiap harinya, berkisar Rp 10.000 sampai dengan Rp 20.000. Bisa juga dibilang, penghasilan orangtua-ku tidak menentu. Ya begitulah, rezeki urusan yang di atas. Kami hanya bisa mensyukuri saja. Kami sekeluarga hidup bahagia.
“Abi, Umi, Rina berangkat sekolah, ya! Assalamu’alaikum.” pamitku seraya mencium tangan mereka.
“Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Iya Nak, hati-hati di jalan ya!” mereka membalas salamku.
Ow iya aku lupa, kenalkan nama aku Karina Khanza Labiba. Aku biasa dipanggil Rina. Aku adalah anak tunggal. Aku tinggal di Desa Banjar, Kepulauan Lingga, Pulau Singkep, Provinsi Riau Kepulauan. Desa Banjar adalah desa yang sangat terpencil, jauh dari keramaian kota dan belum terjamah oleh listrik. Meski begitu, aku sangat senang tinggal di sini. Aku bisa melihat bukit, sawah, sungai, air terjun, dan hutan yang masih sangat asri. Seakan semuanya belum terjamah oleh manusia.
Pagi ini sang surya belum muncul dari peraduannya. Hari masih gelap. Tapi, aku sudah terbiasa berangkat sepagi ini setiap hari. Tujuannya hanya satu, yaitu agar aku bisa menempati bangku terdepan supaya aku bisa memahami pelajaran yang diajarkan oleh Bu Ani. Untuk tiba di sekolah maupun perjalanan pulangnya, semua membutuhkan perjuangan. Jarak rumahku dengan sekolah sekitar 2 km. Walaupun terdengar tidak terlalu jauh, tapi sangat memakan waktu. Aku harus melewati sawah, hutan yang lebat, ditambah dengan jalan yang berbukit-bukit dan rawan longsor. Serta aliran sungai berbatu yang berarus deras dengan lebar 60 meter. Seminggu yang lalu, aku masih bisa melewati sungai dengan jembatan gantung yang sudah reot dan rapuh karena dimakan usia. Tetapi, enam hari yang lalu desaku dilanda badai yang sangat dahsyat. Hingga merobohkan jembatan gantung tersebut. Tapi untungnya rumah dan sekolahku tidak rusak. Hehe. Dan alhasil, aku mau tidak mau harus melewati aliran deras ini.
Dan di bawah sanalah sekolahku berada. SMP Pancasila. Tempat terindah dari semua tempat indah di dunia. Dimana aku bisa belajar untuk meraih masa depan. Walaupun sebenarnya, sekolahku sudah tak layak digunakan. Atapnya berlubang, dinding kayunya juga sudah reot dan rapuh. Sebagian telah dimakan rayap. Halamannya tidak terlalu luas, disana terdapat bendera merah putih. Bendera kebangsaan negara Indonesia. Aku sangat ingin menjadi siswa yang berprestasi, hingga membawa nama baik bangsa indonesia ke seluruh negeri. Mengenalkan budaya-budayanya ke negara-negara lain. Agar Republik Indonesia bisa dikenal baik oleh seluruh penjuru dunia. Itulah yang aku inginkan selama ini.
Tak terasa, teman-teman sudah datang. Bu Ani juga baru memasuki ruang kelas. Di sekolahku hanya ada delapan siswa kelas tujuh. Di sini hanya ada satu guru yang mau mengabdi di tempat seperti ini. Beliaulah Bu Ani Fatimah. Bu Ani berasal dari ibukota Jakarta. Beliau mengajar dengan hati tulus dan ikhlas, hanya berniat untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia. Karena hak memperoleh pendidikan itu sangat penting. Bahkan diwajibkan oleh pemerintah. Oh iya, hari ini pelajarannya adalah matematika dan IPA. Dua pelajaran kesukaanku.
Sepulang sekolah, aku langsung pergi ke hutan untuk memetik buah-buahan. Buah yang aku petik ini, nantinya akan dijual Umi ke pasar. Dan sebagian akan dimakan bersama keluarga. Selain memetik buah, aku pun juga suka meneliti kejadian-kejadian unik yang ada di hutan. Bisa dibilang magis. Tapi, kalau dijelaskan pakai nalar dan logika, fenomena tersebut sudah wajar dan sama sekali tidak mengandung hal magis. Asyik bukan, belajar di alam bebas? Hampir setiap hari aku melakukan hal ini. Karena esok pada masa yang akan datang, aku ingin menjadi seorang Ilmuwan dengan menyandang tittle S3 yang artinya telah berpendidikan hingga tingkat Profesor. Maka dari itu, aku selalu belajar, belajar, dan belajar. Agar impianku dapat tercapai kelak. Amienn… Dan selain sambil belajar, biasanya aku juga menanam bibit pohon-pohon yang baru. Bisa juga disebut reboisasi. Aku melakukan hal itu, karena aku ingin hutanku tetap asri dan lebat.
Hari berganti, seperti biasa pagi ini aku melakukan hal yang sama seperti kemarin. Dan tiba paling awal di kelas. Bosan juga menunggu sekitar satu jam sendirian di kelas. Tapi, tak apalah.
“Selamat pagi Bu Guru.” kami mengucapkan salam kepada Bu Ani.
“Selamat pagi Anak-anak. Bagaimana kabar kalian?” jawab Bu Ani dengan semangat.
“Baik Bu. Bagaimana dengan Ibu sendiri?”
“Alhamdulillah, ibu juga baik-baik saja. Kalau begitu, buka buku IPS kalian. Siapa yang sudah hafal budaya-budaya yang terdapat di Indonesia?”
Dengan percaya diri aku langsung mengacungkan tangan.
“Saya Bu! Saya sudah hafal semua budaya yang ada di 34 provinsi di Indonesia.”
“Oke, bagus Rina! Silakan ke depan dan sebutkan.”
“Baik Bu.”
Setelah kusebutkan satu per satu, Bu Ani mempersilakan aku untuk duduk kembali di bangkuku. Dan aku diberi predikat A+. Senang rasanya. Saat pulang sekolah, Bu Ani memanggilku.
“Rina, di antara teman-teman kamu. Kamulah yang bisa ibu banggakan. Belajarlah yang rajin, Nak. Jangan patah semangat. Ibu yakin kamu bisa menggapai semua impianmu. Ibu lihat, kamu memiliki tekad dan potensi yang kuat untuk maju. Kalau boleh tahu, apa cita-citamu, Nak?”
“Saya ingin menjadi ilmuwan, Bu.”
“Bagus kalau begitu. Raihlah cita-citamu setinggi langit. Tuntutlah ilmu seluas jagat raya ini. Arungi semua samudera. Tembuslah langit hingga lapis ke tujuh. Dakilah semua gunung, hingga ke puncak Everest. Dan jelajahi seluruh daratan di bumi. Hanya untuk satu tujuan, yaitu untuk menuntut ilmu. Berlarilah. Terbanglah. Menarilah. Tertawalah. Sadarilah bahwa dunia itu indah. Walaupun tak seindah surga di atas sana. Selalu tersenyumlah laksana langit senja yang berpelangi. Ibu sangat bangga padamu, Rina!”
“Terima kasih, Bu. Hiks hiks hiks…” aku mengucapkan terima kasih sambil sesenggukan menangis terharu. Aku menjadi lebih semangat setelah mendengar ucapan guru tercintaku itu. Ucapan tadi adalah kata-kata yang paling indah di dunia.
“Iya Rina. Sekarang pulanglah dan belajar yang rajin. Umi pasti sudah menantimu.”
“Iya Bu, Rina permisi dulu ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam Wr.Wb. hati-hati di jalan ya!”
“Pasti Bu!”
Aku pulang dengan perasaan senang bercampur terharu. Seraya itu, aku langsung naik ke bukit. Tetapi tiba-tiba saat perjalanan, rintik-rintik hujan mulai turun. Untung saja hanya gerimis. Dari atas bukit aku bisa melihat desaku yang sangat indah. Aku bisa menikmati indahnya matahari kala senja. Dan aku pun berteriak.
“Halo dunia! Nantilah aku. Aku berjanji akan mengarungi seluruh samudera. Aku akan terbang menembus langit lapisan ke tujuh. Kan ku daki semua gunung, hingga ke puncak Everest. Dan kan ku jelajahi seluruh daratan. Hanya untuk satu tujuan. MENUNTUT ILMU. Ya, itulah tujuanku. Aku akan selalu tersenyum laksana langit senja yang berpelangi. Dan disinilah! Di bukit ini. Akan dimulai perjuangan itu. Dan alam semestalah yang kan menjadi saksinya.” Saking berkobarnya semangat ’45-ku, tak terasa hujan telah reda. Dan muncullah pelangi di sebelah timur. Seakan dia tengah tersenyum padaku. Aku merasa jiwaku ini telah utuh lagi, setelah kejadian ini. Dan semangatku lebih membara, untuk menantang kehidupan di luar sana.
Tepat satu bulan setelah kejadian mengharukan itu, hari ini akan dilaksanakan Ulangan Akhir Semester Genap. Hasilnya akan diumumkan besok. Untung saja, kemarin tujuh hari tujuh malam aku belajar gak kenal siang ataupun malam. Sampai-sampai aku hanya mampu tidur tiga jam saja per harinya. Parah sekali yang jelas. Soal-soal yang ditanyakan, semuanya sudah dijelaskan sama Bu Ani. Jadi, aku percaya dalam hati bahwa gak ada kesalahan yang aku lakukan selama mengerjakannya. Aku tak sabar menunggu esok hari.
Hari berganti, aku bangun sangat pagi kali ini. Hanya untuk ke sekolah mengetahui hasil belajarku selama satu semester ini. Ketika berangkat bersama Abi dan Umi. Di jalan terasa tanahnya sedikit bergerak. Tapi, hanya kami anggap sepele. Hingga akhirnya, ketika tiba di ladang getaran itu terasa semakin kencang, kencang, dan kencang. Kami hanya berlindung di bawah pohon pisang. Dan untung saja, kami sekeluarga selamat dari gempa bumi berdurasi sekitar lima menit itu. Tapi ada yang janggal, firasatku ada hal buruk yang telah terjadi. Seketika itu pun aku langsung berlari sekencang-kencangnya ke sekolah. Dan ternyata, sekolahku telah hancur. Aku pun menangis tak karuan.
Sekitar tiga jam setelah gempa, ada banyak relawan berdatangan untuk menolong kami. Dan posko pengungsian korban bencana alam pun sudah banyak berdiri. Tapi, aku tak langsung memasukinya. Aku lebih memilih untuk datang lagi ke sekolah dan mencari kabar tentang Bu Ani dan kawan-kawan lainnya. Setiba disana, aku melihat para Tim Sar sedang membokar runtuhan bangunan sekolahku. Setelah, aku bertanya ternyata hasilnya. Bu Ani telah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa bersama runtuhan bangunan sekolah itu. Sama halnya dengan Bu Ani, Rudi, Jito, Tika, dan Dita empat sahabatku itu juga ditemukan tak bernyawa bersama runtuhan bangunan. Apa daya untuk mempercayai semua ini. Ini tak mungkin terjadi. Pasti semua hanyalah mimpi.
Di dalam tenda pengungsian, aku pun menangis tak karuan sampai berteriak-teriak, walaupun Sadini sudah berusaha menghiburku. Tapi kurasa aku tak bisa menahan kesedihanku. Aku berpikiran, pasti aku sudah tak bisa lagi meraih impianku. Karena sekolahku telah hancur, begitu juga dengan guru dan teman-temanku yang ikut tertimbun dalam runtuhan tersebut. Tanpa Bu Ani, aku tak akan berarti. Apa jadinya aku tanpa beliau? Karena selama ini, hanya beliaulah yang mau mendidik kami anak-anak desa. Aku juga tak tahu harus berkata apa lagi, aku pun hanyalah menangis, menangis, dan menangis. Walaupun itu tak ada gunanya.
“Hai Adek, mengapa kamu menangis sampai histeris seperti ini?” sapa seorang relawan di sampingku.
“Tak apa-apa Om. Aku hanya sedih saja, memikirkan sekolahku yang sudah hancur dan juga guruku bersama teman-temanku ikut tertimbun dalam runtuhan bangunan sekolah.”
“Oh, saya kira mungkin om bisa membantu adek. Perkenalkan dulu, nama om adalah Bagas Rahman. Panggil saja om Bagas. Terus Dek, apa lagi keluhanmu?”
“Aku merasa masih sangat sedih. Karena pasti aku sudah tak bisa meraih impianku. Bahkan sekolah, guru dan beberapa teman-teman sekolahku juga ikut tertimbun di sana. Tanpa guruku, Bu Ani, aku takkan berarti. Apa jadinya aku tanpa beliau? Karena selama ini, hanya beliaulah yang mau mendidik kami anak-anak desa.”
“Tenanglah dulu, ini minum dulu. Dan om juga bawa makanan ringan, kalau kamu mau?” katanya sambil menyerahkan minum dan makanan tersebut padaku.
“Iya Om, terima kasih tak perlu repot-repot. Eh, itu Abi dan Umi sudah datang.”
“Selamat siang, Ibu, Bapak, kalian orangtuanya Rina ya?”
“Iya Pak, benar sekali. Ada perlu apa?” Abi menjawab pertanyaan Om Bagas.
“Saya ingin memberi sedikit bantuan pada keluarga bapak. Terutama untuk Rina, anak bapak ini.”
“Iya Pak, benar. Saya istrinya Om Bagas. Nama saya adalah Vidia Elena. Panggil saja tante Vidi. Tante dengar, kamu sangat ingin melanjutkan sekolahmu ya? Kamu pasti juga sangat ingin bisa meraih impianmu bukan?” seorang wanita muda yang cantik dan anggun itu menghampiriku. Ternyata beliau adalah istrinya Om Bagas.
“Iya Tante, memang benar.”
“Ibu, Bapak. Bagaimana kalau kalian sekeluarga ikut kami pindah ke Jakarta. Nanti kalian, akan kami beri rumah tepat di samping rumah kami. Dan kami akan membiayai semua pendidikan sampai perlengkapan sekolahnya Rina, sampai lulus kuliah sampai setelah mendapatkan pekerjaan. Nanti Ibu dan Bapak juga akan kami beri modal untuk usaha. Bagaimana Bu, Pak?”
“Tolong setujuilah permohonan kami! Kami hanya ingin kalian hidup bahagia seperti keluarga kami. Saya akan beri waktu kalian untuk berpikir. Besok saya akan ke sini lagi. Permisi.”
Abi dan Umi pun memikirkan permasalahan ini matang-matang. Karena ini juga menyangkut masa depanku. Akhirnya Abi dan Umi mempersetujui hal ini. Mereka bilang padaku, karena mereka sangat ingin aku bisa meraih semua impianku. Mereka sangat sayang padaku. Selama ini yang mereka pikirkan hanyalah aku, aku, dan aku. Sampai akhirnya, seminggu kemudian kami tiba di Jakarta. Aku pun bersekolah di salah satu sekolah bertaraf internasional di Jakarta. Aku pun bisa mencetak banyak prestasi di sana. Selalu ranking satu di sekolah setiap semester. Dan aku juga sering mewakili Indonesia, untuk mengenalkan budaya-budaya Indonesia ke negara asing. Aku juga sering mewakili Indonesia, untuk mengikuti International Physics Olimpiade. Cita-citaku selama ini sudah tercapai. Hingga akhirnya lulus SMA.
UN SMP dan SMA-ku selalu mendapatkan nilai sempurna dan tertinggi di Indonesia. Sampai akhirnya, aku pun mendapat surat kiriman dari salah satu University ternama di US. Aku diberi beasiswa untuk kuliah gratis di sana, hanya dua tahun sudah bisa wisuda dan pulang membawa tittle S3 di belakang namaku. Abi dan Umi juga telah mempersutujui aku untuk kuliah di US. Tante dan Om juga mau membiayai kebutuhanku selama disana. Abi sekarang juga sudah sukses lho, dengan bisnis Florist-nya. Umi juga gak kalah sukses sama Abi, bahkan Umi sangat sukses berkelut dengan usaha kue-nya itu. Mereka melakukan itu semua hanya untuk aku.
Dan hari ini, aku akan berangkat ke US. Diantar sama Abi, Umi, juga Tante dan Om ke bandara. Setelah di US aku hidup dengan bahagia, aku menjadi mahasiswi terhebat di sana. Sampai akhirnya telah wisuda, aku pun ditawari untuk bekerja di National Geographic. Untuk menjadi seorang ilmuwan, karena aku telah dianggap rakyat sedunia sebagai Ilmuwan terhebat asal Indonesia. Aku pun mengiyakan tawaran tersebut, hingga akhirnya orang-orang sedunia mengenaliku dan mereka semua sekarang sudah mengenal berbagai macam budaya yang ada di Indonesia. Itu semua berkat aku dan orangtuaku yang selalu mendoakanku dan sangat sayang terhadapku. Begitu juga dengan Tante dan Om. Maka dari itu Kasih Sayang, Cinta Tanah Air, dan Cinta Lingkungan sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Karena, tiga kunci tersebut adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Karina Khanza Labiba.

Cerpen : Langit Senja yang Berpelangi

Posted by : Devva jay
Jumat, 20 Februari 2015
0 Comments

Short Story Essay: Wulan Tariningsih


I was a spoiled child and always rely on the people around me. I'm very fond mother and my father. They always provide the best and most good to me.

I remember how wonderful glimpse of my childhood when his I was sick, when his I'm happy, and I'm sad. They are always there for me and always encouraged me to get up. Hugs from them which makes me calm.

They taught me the meaning of life, patience, sincerity, gratitude and struggles of life. How many sweat and tears that they spend on me. Large or small mistakes they always forgave him and advised me with a soft-spoken and loving. Smiles and encouragement from them that makes the spirit to go to my future.

Now I started growing up and trying to want to change any bad habits myself
I started to learn and promised to myself:

"I'm not a little kid who always depend on others"
"I'm not a spoiled child who always complain and complain to the mother and father!"
"I will fight and try to own"
"I should not give up under any circumstances" and "I will prove someday that I can"

That's my promise to myself that until now I'm living. Although difficult for me to do and a lot of sharp bends over and crush my spirit to be better, but I have a God who is always with me and look after me when his followers who want to change and become better again.

Dikala I complain, and cry and hearts speak "if I could?" But I reopen my promises which I deliberately wrote in the book that I wrote myself for motivation, then the spirit was back and more motivated to get up

Maybe now I can not give happiness entirely to parents but I had a glimpse of a simple prayer every day and even every second I say in my prayers or even in loneliness

Yes allahhh ...
"God give me the opportunity to become better again"
"Give me a chance to prove to myself that I could"
"Give me a chance to be happy mother and my father" and "give me the firmness of faith in life are not always smooth"
Aminnn ...

"I love and love mother and my father and I will make them happy"

Cerpen : Keluarga Ku Motivasiku

Posted by : Devva jay
Kamis, 19 Februari 2015
0 Comments
Gemericik suara hujan ditambah dengan tiupan angin yang menggoyangkan daunan, bagaikan lagu merdu yang menghipnotis diri ini untuk semakin terlelap. “TOK.. TOK.. TOK..”. Antara sadar dan tidak, aku seperti mendengar ketukan di pintu. TOK, TOK, TOK!. Lalu sebuah suara berteriak. “Reni… bangun!”. Suara cempreng yang memekakan telinga itu berhasil membuat tidur cantik ku terganggu. “Iya aku bangun!” ucapku dengan suara yang tak kalah kencangnya. “Kalau gitu, buka pintunya donk, kamu tega liat aku berdiri lama di depan pintu kamar kayak patung” teriak heni dengan nada memelas.
Akhirnya kupaksakan tubuh ini untuk beranjak meninggalkan kasur empuk yang begitu nyamannya. Sambil berjalan sempoyongan, kubuka pintu dan kulihat Heni, sahabat dekatku berdiri dengan rambut yang dikuncir tinggi dan muka masam yang melihatku dengan tatapan heran.
“maaf deh, kamu kan tau kalau aku udah tidur bakal…” belum sempat melanjutkannya Heni mendorong ku masuk kamar kembali dan menuju ke kamar mandi. “iya aku tau kamu itu susah dibangunin dan aku juga tau kalau kamu mandinya cepet. Lebih cepet dari kerbau yang mandi di lumpur, jadi nggak masalah!” celoteh heni sambil ketawa cekikikan. “ah, apa sih hen” gerutku di dalam kamar mandi.
Tak lama, sekitar 01:15 aku pun selesai mandi, memang benar kata Heni. Kubuka pintu kamar mandi, kulihat heni berdiri sambil memegang baju dan celana jeans lengkap dengan embel-embel yang lain, dilemparkanya semua hampir mengenai mukaku. “kamu perhatian banget hen, lebih dari bibi gue” kataku sambil menahan tawa. “udah deh, aku tunggu kamu di teras, kalau kamu gak selesai dalam waktu 1 menit, aku tinggal” celotehnya sambil berlalu meninggalkan kamar.
Aku pun selesai dan bergegas turun darri kamar, dan kulihat mama yang sedang sibuk bergulat dengan komputernya “ma reni pergi dulu ya”. “makan dulu ren” ucap mama. “gak deh ma, kasian heni udah nugguin lama” ku cium pipinya dan segera berlari masuk ke dalam mobil yang di dalamnya heni, yang sudah siap membawa pergi mobilnya untuk menuju rumah evi untuk menulis tinjauan kepustakaan. “asik kita ke rumah Evi lagi!” teriak heni kegirangan.
Aku mengerti kenapa heni begitu senang. Rumah evi memang enak banget! maklum, dia anak gedongan. Di halaman belakangnya ada kolam renang segala. Ruang belajarnya juga menyatu dengan home theater. Itu sebabnya Heni begitu senang, aku juga begitu senang karena aku teringat koleksi film di rumah evi. Seperti aku, ternyata evi itu penggemar film juga! Banyak sekali tumpukan leser discnya yang bisa kubongkar dan kupinjam. Evi juga tak melarang kedatangan kami yang terkesan memaksa itu, karena dia senang sekali kalau dikunjungi orang.
Tak terasa mobil yang dari tadi melaju berhenti di dalam halaman luas yang dikelilingi bunga-bunga cantik yang tertata dengan rapinya, namun begitu menginjakan kaki di depan pintu rumahnya, barulah aku menyesali kedatanganku ke rumah evi, karena aku langsung diingatkan pada alasan kenapa aku jarang berkunjung ke rumah evi. Di depan pintu rumahnya, mamanya evi sudah berdiri menyambut kedatangan kami dengan senyum sumringan. Sasak rambutnya yang tinggi nyaris menyentuh plafon rumah. Bentunya yang mirip gula kapas warna-warni yang biasa dijual di taman ria. “Hai, cantik. Ooh kamu bawa temen kamu? komin!”. Seperti anaknya, mamanya evi juga hobi banget sok berbahasa inggris tapi salah-salah. Dia ini ibu penjabat, makanya hobi banget nyasak rambut setinggi menara Eiffel. Kan katanya semakin tinggi rambut seorang ibu penjabat, akan semakin disegani. Konon, mamanya evi ini pernah kesentrum gara-gara sasaknnya sampai nyentuh kabel lampu di langit-langit.
Waktu kami sudah nogkrong di ruang belajar alias home theaternya, evi nyeletuk “Rin, kamu kan suka film kartun. Aku punya disc baru loh. Judulnya ‘Gi Zu’ ”. Aku pun bingung. You know. Perasaan aku hafal mati semua film animasi, tapi baru kali ini aku dengar film yang judulnya ‘Gi Zu’. Apa itu mungkin film animasi Jepang yang belum kudengar? pikirku, berprasangka baik. Aku pun segera bertanya, “Film apaan tuh, Gi Zu?”. “Ini lhooo!” sahut evi sambil mengacukan sebuah laser disk. Di covernya, tertulis gede-gede, “G.I. JOE.”. Aku langsung pusing mendadak. “Eviiiii!” lengkingku kesal. “Itu bacaanya Ji-Ai-Jo! bukan Gi Zu!”. “Oh, gitu ya? jiyayo? Kok kaya bahasa Jepang ya, bukan Inggris? Kamu yakin bacaanya begitu Ren?” sahut Evi kalem, bikin aku langsung gigit-gigit kuku karena gregetan.
Tiba-tiba mamanya Evi nongol lagi di ruangan belajar itu dengan suaranya memanggil melengking mendayu-dayu beserta bibirnya yang ditarik ke belakang, khas ibu-ibu pejabat lagi ngomong, “Evi sayaaang, kamu ada liat kemeja papa nggak? Yang mereknya Dispenser. Kemana ya tuh kemeja?”. Merek DISPENSER? pikirku dengan mata berkunang-kunang. Heni sudah cekikikan di sebelahku. Evi menyahut dengan mulut mengerunyut. “Mamah ini bikin malu Evi ih! Marks and Spencer, Mamah! Bukan merek Dispenser!”. “Nah, iya itu. Mana?”. Aku berbisik ke Heni, “Tumben sekali ini Evi bener,” Heni semakin cekikikan. Evi tampaknya tidak mendengar kami. “Ada di lemari Mah. Kayaknya si Inah salah taro bajunya.” sahut Evi menyalahkan pembantunya. “Kayaknya gaya bicara mereka ini turunan ya,” bisikku lagi. “Aku masih takjub si Evi bisa-bisanya ngomong Inggris yang bener “Harus kita catat nih Ren. Peristiwa bersejarah nih” jawab Heni. “Tapi, pasti nggak akan lama Liat aja!” kataku.

Evi pun kembali ke meja kami. “Aku tuh, suka senewen liat mamah,” curhatnya. “Dia maksa aku jadi dokter, padahal mamah tau kalau aku ini bodo minta ampun! Ironing ya?”. “Ironis kali Vi,” sahutku sambil melirik pada Heni seraya tersenyum geli. Tuh kan!. Syukurnya, si Evi itu kurang sensitif orangnya, jadi celetukanku itu tidak membuatnya sakit hati. Selagi kami asyik berdiskusi sambil menulis, tiba-tiba mamanya Evi muncul lagi. Sasak rambutnya kayaknya habis diperbaharui lagi sehingga terlihat semakin megar. Kalau singa Paddle-pop berhalangan hadir, mamanya dapat menggantikannya. Kali ini, ia berteriak ke PRT (pembantu rumah tangga) mereka sambil memegang kardus keci. “Inaaaaah! Taliban mana?”. Kembali aku dan Heni ternganga. Apa kuping kami tak salah dengar? Ngapain mamanya Evi minta Taliban. “Taliban, bu?” Inah muncul sambil garuk-garuk kepala. Aku memandang iba ke Inah. Kasian dia, harus menghadapi dua majikannya yang penuh teka-teki ini. “Itu lhooo, yang untuk nutup dan nempelin kardus ini!” jelas mamanya Hani. “Oh, lakban Bu?”. “Nah iya itu! Mana?”. Aku berdoa dalam hati, Ya Tuhan, kuatkanlah hati Inah agar dia betah bekerja di sini. Keluarga ini butuh orang seperti Inah yang pintar untuk menuntun mereka dari kegelapan.”

Cerpen : Kamu dan Mamahmu

Posted by : Devva jay 0 Comments

- Copyright © S_BEAST - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -